08/09/2006

Kontemplasi Sore Hari di Warnet

medium_Merdeka.JPGOleh: Martin Rachmanto

(Sekadar untuk disebut) atau bahkan menjadi wartawan bukan hal yang mudah. Coba saja bayangkan: untuk masuk dan menjalani profesi ini, masing-masing personal dituntut untuk bisa memahami semua persoalan, mampu menjaga komunikasi dan mengedepankan profesionalitasnya.

Serangkaian persyaratan itu rupanya memang tak bisa ditinggalkan. Tapi sayang, tak bisa dipungkiri, wartawan juga manusia. Sehingga sejumlah persyaratan yang harus dimiliki tampaknya tak bisa dimiliki secara keseluruhan.

Begitu juga dengan kondisi yang ada saat ini. Banyak orang bangga dengan profesi yang disebut orang sebagai ‘profesi orang maha tahu segalanya’ itu. Ke sana kemari berbicara intelek seolah-olah tak ada lagi yang se-intelek dirinya.

Pena dan seonggok block note selalu dikeluarkan agar orang di sekitarnya tahu bahwa ia adalah wartawan. Meskipun kemampuan yang ada belum layak disebut wartawan. Yah….apa mau dikata, untuk menjadi wartawan tidak susah, karena saat ini pembreidelan media massa tidak akan terjadi.

Semuanya dipasrahkan pada personal: mau atau tidak diberi tumpukan koran untuk dijajakan kepada masyarakat atau penguasa. Kalau mau, tentunya anda akan mendapatkan imbalan pengakuan sebagai wartawan serta “imbalan lainnya”. Namun kalau hal tersebut ditolak, satu kata yang bisa diucapkan: selamat tinggal dunia wartawan.

Kendati demikian, munculnya begitu banyak wartawan saat ini tak perlu diperdebatkan. Untuk menghilangkan sebagian mereka yang ‘tak layak’ tidak perlu susah-susah. Cukup serahkan pada alam, secara otomatis mereka akan terseleksi mengikuti nasib media masing-masing.

Yang patut diperdebatkan dan menjadi pertanyaan besar saat ini adalah ketika kriteria untuk menjadi wartawan itu didapatkan salah satu personal. Mari kita sebut saja Mr X. Ia memiliki semua kepantasan berkaitan dengan profesi jabatan wartawan.

Kemampuan memahami persoalan, cakap dalam komunikasi hingga mampu membagun sebuah koalisi sudah ada pada dirinya. Tapi sayang, kematangan berkomunikasi tersebut hanya berguna untuk Mr X dan kelompok kepentingannya.

Sementara dengan lingkungan terdekatnya, Mr. X tidak bisa menjaga komunikasi itu. Bahkan karena kekurangannya itu, rasa hormat sesama manusia tak bisa ditunjukkan lagi. Utamanya kepada narasumber.

Bagi Mr. X, kebenaran dalam persepsinya adalah kebenaran yang nyata. Tak ayal, meski hal itu dianggap salah oleh masyarakat/kelompok/personal yang memberi penilaian berbeda terhadapnya, Mr X tidak pernah menggubrisnya.

Hanya sekali waktu saja, penilaian dari masyarakat/kelompok/personal itu digunakannya. Itupun ketika penilaian itu berbuah keuntungan baginya. Selama tidak ada keuntungan tampaknya hal tersebut tidak perlu diindahkan.

Oleh karenanya, labil ataukah memang sudah begitu perwatakannya? Tak perlu disimpulkan ataupun dijawab. Karena jawaban yang utama adalah Mr. X tetap harus dihormati. Sebagai manusia, ia punyak hak meskipun dalam menjalankan profesinya ada beberapa bagian yang salah.

“Apapun bentuknya, siapapun dia, tetap hormati dia. Sebab dengan menghormatinya, patut diyakini sebagai manusia, ia tentu akan kembali ke khittah-nya. Sebab selama perjalanan dalam profesinya, tidak mungkin ia tidak pernah mendapat pelajaran yang berarti.” (*)

18:38 Posted in ARTIKEL | Permalink | Comments (4) | Email this

50 Persen Media di Jember harus Berbenah

medium_DSCN5006.JPGWawancara Machmud Sardjujono
(Wakil Ketua DPRD Jember)



Machmud Sardjujono, wakil ketua DPRD Jember, boleh jadi adalah newsmaker bagi kalangan jurnalis di Jember. Bukan apa-apa. Politisi gaek ini sering terbelit masalah politik dan hukum yang layak menjadi konsumsi media massa.

Komentar dan penjelasannya tentang perkembangan politik dan kasus hukum yang melibatkan pejabat dan anggota DPRD Jember selalu ditunggu oleh para wartawan.

Hebatnya, tak seperti politisi atau pejabat umumnya yang terbelit masalah hukum, Machmud justru tak menghindari pers. Ia justru mudah ditemui di ruang kerjanya.

Kali ini, Kabar Jurnalis Jember mewawancarai Machmud untuk mengetahui pandangannya mengenai pers di Jember. Berikut petikannya.


Bagaimana kinerja pers secara umum di Jember?
Saya lihat pers adalah satu kekuatan penunjang untuk suksesnya pemerintahan. Satu kekuatan ini boleh saya samakan dengan kekuatan eksekutif, yudikatif, legislatif. Kalau ada trias politika, maka pers ini bisa yang keempat.

Persoalannya, teman-teman di pers sendiri masih perlu berbenah diri untuk bisa menjadi kekuatan keempat. Pers hendaknya melakukan kontrol yang baik, membuat tulisan-tulisan yang benar dan akurat.

Tak hanya sekadar mengangkat komentar orang yang mau bicara, tapi berdasarkan kualitas. Ada orang yang sebetulnya tak pantas dimuat (di media massa). Tapi karena dia bicara, maka dia dimuat.

Lalu ada informasi yang belum di-cross check, tapi sudah dimuat. Saya harapkan dibenahi di situ. Jadi kalau mau baik seperti saya idam-idamkan, pers perlu berbenah diri.

Berapa persen media massa di Jember yang harus berbenah?
Barangkali masih fifty-fifty. Masih 50 persen yang harus dikejar, dibenahi.

Bagaimana seharusnya pejabat berhubungan dengan pers?
Seyogyanya setiap pejabat terbuka terhadap pers. Kalau tidak terbuka terhadap pers, maka pers tidak punya bahan-bahan untuk diketahui masyarakat. Jadi setiap pejabat diharapkan terbuka, jangan sampai takut terhadap pers.

Tapi sebaliknya, yang sangat kita harapkan, pers jangan cepat-cepat menghakimi. Informasi yang didapat langsung dihakimi. Jadi pemberitaan harus seimbang, harus ada cross check dan lain sebagainya.

Selama ini bagaimana?
Ada pejabat yang ketakutan. Kalau pers seperti itu, yang terjadi pejabat-pejabat takut terbuka kepada pers. Saya sangat bermimpi antara pejabat, baik eksekutif, legislatif, aparat, LSM, dan pers, kita jadi satu. Pers akan betul-betul jadi kekuatan keempat. LSM jadi kekuatan kelima.

Pokoknya, pers juga harus introspeksi terhadap sistem model pemberitaan, supaya betul-betul jadi kekuatan keempat. (*)

18:12 Posted in WAWANCARA | Permalink | Comments (1) | Email this

08/06/2006

Jurnalis di Panggung Jember Fashion Carnaval

medium_DSCN5000.JPGAksi para wartawan saat meliput JFC V di Jember

Wartawan Harian Surya Martin Rachmanto sempat gusar, saat mendapat pesan pendek dari salah satu panitia Jember Fashion Carnaval V. Dalam sandeknya, sang panitia bilang bahwa wartawan tak boleh mendekati runway (istilah untuk arena catwalk utama di jalan Sudarman, depan kantor Pemerintah Kabupaten Jember).

Masih kata panitia yang baik hati itu, penyelenggara JFC menyediakan panggung bertrap bagi para jurnalis yang ingin mengambil gambar karnaval fashion itu. Konsekuensinya, para para jurnalis harus menjepret dengan kamera bertele. Wartawan bersenjatakan kamera digital pocket macam Martin, silakan minggir.

Untunglah, tak lama kemudian hal itu diklarifikasi oleh Dynand Fariz, boss JFC.

“Tidak begitu. Kawan-kawan yang berkamera digital kami sediakan tempat di tenda pertama dekat panggung. Bisa juga mengambil gambar di backstage. Namun, kami harap kawan-kawan pers tidak masuk ke runway. Ibarat landasan pesawat, runway harus bersih,” katanya.

Media massa memang mendapat perhatian tersendiri dari panitia JFC. Dynand menyadari, media massa telah banyak berperan menjulangkan nama karnaval fashion ke tingkat nasional dan bahkan dunia.

Setiap awal Agustus selama lima tahun belakangan ini, puluhan jurnalis selalu hadir ke Jember untuk meliput acara tersebut. JFC dianggap sebagai suatu hal yang monumental. Belum ada ceritanya pentas fashion dipertontonkan di hadapan khalayak ramai. Jalan sepanjang 3,6 kilometer dijadikan catwalk terpanjang di dunia, dan disaksikan hingga 100 ribu orang. Tahun ini, JFC digelar 6 Agustus.

Yang lebih dahsyat lagi, wisata mode ini digelar di sebuah kota kecil di ujung timur pulau Jawa: Jember. Berlebihan kiranya jika Jember hendak dibandingkan dengan Milan atau Paris. Tapi, tak berlebihan, jika kemudian dikatakan JFC berhasil memunculkan efek publikasi yang luar biasa tentang dunia fashion.

“Juli lalu saya diundang menghadiri International Creative Culture di Bandung yang dihadiri perwakilan 22 negara. JFC rupanya dipandang berhasil memunculkan budaya kreatif dari lokal,” kata Dynand.

Tahun ini, JFC kembali hadir, dan Dynand sudah menyiapkan sejumlah taktik untuk memanjakan para jurnalis yang hadir. Panggung ber-trap adalah salah satunya. Ia mengaku mendapat saran dari sejumlah wartawan foto agar panggung bertrap membelakangi matahari.

Selain itu, Dynand juga menyediakan layanan akses internet speedy gratis yang bekerjasama dengan Telkom. Para wartawan bisa langsung menulis dan mengirim berita atau foto ke kantor masing-masing, begitu acara usai.

Semua persiapan begitu rapi. Dynand mengaku mencoba seprofesional mungkin dalam bekerja.

Namun, di lapangan, tak semulus dalam angan. Menjelang acara dimulai, para wartawan masih berkeliaran di sekitar venue. Panggung ber-trap masih kosong, dan hanya ditempati pengambil gambar dari salah satu rumah produksi yang memang bekerjasama dengan panitia JFC.

Begitu musik dibunyikan dan Dynand keluar dari balik panggung mengawali defile busana adat Bali, para fotografer dan kameramen televisi berlarian mendekati panggung. Suasana begitu crowded. Sejumlah undangan yang duduk di tenda-tenda samping harus berdiri untuk bisa melihat defile awal.

Tinggalah sang master of ceremony yang dengan nada putus asa meminta agar para wartawan menjauhi panggung. “Para wartawan dimohon tidak berada di depan panggung. Silakan mundur. Tempat Anda sudah disediakan,” katanya berkali-kali.

Setelah jepret sana-sini selama beberapa menit, para wartawan pun menepi.

Saat defile fashion dimulai, panggung ber-trap seperti tak ada gunanya. Mulanya sejumlah fotografer memang memilih mengambil gambar dari sana. Namun, tak bertahan lama. Mereka lebih memilih mengambil gambar di bawah panggung, mendekati defile tersebut.

Dynand yang berada di barisan terdepan defile pun tampak bingung. “Para wartawan dimohon mundur,” pintanya.

Permintaan itu dituruti. Akhirnya, para jurnalis memotret di luar batas tali kuning yang dipasang oleh panitia, untuk membatasi runway dengan tempat penonton.

Panggung ber-trap? Jangan ditanya. Begitu para wartawan turun dari sana, puluhan penonton langsung naik dan berdiri di atas sana. Untung tidak roboh, deh! (*)

17:40 Posted in PERISTIWA | Permalink | Comments (2) | Email this

1 2 3 4 5 6 7 8 Next